Asa Amira (5)

Asa Amira (5)

Amira Sayang Kakak

Bertahun-tahun Amira memendam kebencian pada si kakak pertama. Anehnya ia tak merasakan hal tersebut kepada kakak kedua dan ketiganya. Mungkin karena hanya kakak pertama yang berjenis kelamin sama sehingga tingkat cemburunya lebih tinggi. Bisa jadi karena kakak kedua dan ketiga tidak terlalu sering “didewakan” sama keluarganya.

Sejak Elmira mempunyai anak, hubungan keduanya mulai mencair. Bayi Elmiralah yang mencairkan kebekuan di hati Amira. Ia tak tahan untuk tidak bermain bersama si bayi montok itu. Apalagi saat melahirkan anak pertama Elmira tinggal bersama di rumah bunda.

Sayang, saat bayi itu berusia 6 bulan, kakaknya kembali ke perantauan mengikuti sang suami.

Tak ada yang berubah setelah itu, hingga saat kehamilan anak kedua Elmira, barulah drama dimulai. Elmira harus bedrest dan dirawat di rumah sakit cukup lama. Anak pertama yang sedang lincah-lincahnya terpaksa ditinggal di rumah.

Amira pun turut serta menemani bunda menjaga keponakannya yang super duper aktif selama kakaknya dirawat di rumah sakit. Di situlah Amira mulai merasa bersalah. Dulu ia pernah berdoa agar kakaknya mati tertabrak mobil. Namun, sekarang ia merasa sedih dan takut kehilangan sosok Elmira.

[Kak, maaf ya …]

[Kak, aku merasa bersalah …]

[Kak, cepet sembuh dong, jangan tidur di rumah sakit mulu!]

[Kak ….]

Berkali-kali ia menuliskan teks namun tak jadi dikirim. Ia malu dan segan mengakui kalau ia cemburu padanya. Ia takut kalau kakaknya meninggalkan untuk selamanya. Apalagi saat itu kata dokter kondisi Elmira cukup lemah.

Amira takut kehilangan kakak. Amira sayang kakak ….” bisiknya lirih.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh