Asa Amira (13)

Asa Amira (13)

POV Elmira

Sekarang Ridho sudah besar. Sejak usianya 6 bulan kami kembali ke ibu kota karena tugas akhir kuliah yang harus segera kutuntaskan.

Namun, keberangkatan yang terakhir itu terasa membawa beban yang sangat berat. Pasalnya, sehari sebelum berangkat, tak sengaja aku membaca buku harian berwarna hijau tosca, warna favoritnya Amira.

Awalnya tak tertarik untuk baca karena ada privacy yang harus dijaga. Namun, saat tak sengaja mata ini menangkap huruf kapital dan besar-besar bertuliskan “AKU BENCI KAMU, ELMIRA”. Merasa namaku terpanggil, mau tak mau tangan ini lancang membuka satu per satu halaman buku itu.

Air mata berderai dengan sendirinya, dari mulai gerimis berubah menganak sungai. Sebegitu dalamkah rasa benci yang adikku tersayang rasakan. Gerangan apakah yang membuat ia memendam perasaan itu, padahal kami jarang sekali interaksi?

Seingatku, limpahan kasih sayang senantiasa kucurahkan untuknya. Namun, karena memang kondisi terbatas dan kewajibanku tinggal di asrama jadi kami jarang bercanda.

“Ya Allah ….”

“Apa yang harus aku lakukan agar kebencian di hatinya sirna?”

****

Alhamdulillah aku berhasil lulus dengan nilai hampir sempurna. Aku mendapatkan nilai Indeks Prestasi Kampus 3,99. Kurang 0,1 untuk mencapai angka tertinggi. Kabarnya ini nilai terfantastis kedua setelah tahun sebelumnya ada yang berhasil mencapai nilai IPK sempurna.

Dengan nilai itu, aku langsung diminta mengajar di salah satu sekolah internasional tanpa seleksi. Eh, bisa jadi karena sekolah itu rekanan sama tempat suami kerja dan sebagian besar guru di sana juga aku kenal. Namun, mengajar di sekolah ini ternyata butuh mental dan fisik yang kuat. 😂

Oh iya, aku lupa menceritakan, Ridho sekarang mau punya adek. Awalnya aku baik-baik saja, hingga takdir tersurat hingga waktunya. Sudah seminggu ini aku terbaring di ranjang rumah sakit, harus bed rest total. Baru diketahui ada hal yang kurang beres dengan kehamilan ini.

Hingga suatu hari perut terasa sangat sakit, nyaris tak tertahan. Berjam-jam menahan sakit tak terperi, akhirnya dokter memutuskan dedek harus dilahirkan walaupun waktunya belum cukup. Aku merasa sudah tak kuat, lorong jiwa serasa tercabut dari akarnya. Sungguh, aku tak bisa mendeskripsikan apa yang kurasakan saat ini karena kegelapan perlahan mulai menyelimuti dan tiba-tiba sunyi serasa sendiri.

Aku tak bisa mendengar apa-apa sekarang. Ada apa ini?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh