Asa Amira (10)

Asa Amira (10)

POV Elmira

Amira adalah sosok gadis kecil yang manja. Perawakannya kecil dan agak ringkih. Dia sering sakit, sehingga bunda selalu menjaga agar dia tidak kelelahan.

Aku tidak terlalu dekat dengan Amira, mungkin karena jarak usia yang cukup jauh. Dia memang lahir saat aku lulus SMP. Padahal setelah itu aku sudah ngekos di ibu kota. Kemudian karena aku memenangkan olimpiade, biaya sekolahku ditanggung full sama pemerintah namun konsekuensinya aku harus tinggal di asrama karena memang ada pendidikan tambahan selain pelajaran akademik di sekolah.

Kegiatan di asrama cukup padat. Bangun pagi sekali karena harus antri mandi, kemudian antri sarapan, langsung masuk kelas hingga jam 14.00 WIB. Setelah ashar lanjut kegiatan ekstrakurikuler. Malamnya kegiatan keasramaan. Kami juga ada kewajiban setor hafalan qur’an dengan target yang sudah ditentukan.

Karena kegiatan cukup padat, rasanya tak ada waktu untuk mengingat kenangan tentang sosok dewasa yang disebut dengan ayah. Hanya sesekali aku merasakan iri saat melihat teman-temanku bercanda dengan ayah mereka. Tapi, ah sudahlah, ayah saja tak pernah mencari kami, dia lebih asyik dengan keluarga barunya. 😭

Kadang aku merasa kasihan sama Amira. Ia sama sekali tak pernah melihat sosok ayah. Bahkan di rumah nenek, tak kutemukan satu pun foto ayah. Di hp bunda? Haha, tak ada satu pun foto kami yang ada di galeri hp nya. Bukan karena ga suka foto-foto tapi karena sudah lama hp bunda berganti dengan hp poliponik yang hanya bisa sms dan telpon saja.

Suatu hari, saat pelajaran TIK di sekolah, ada teman yang mengajariku untuk bermain facebook, kebetulan hari itu guru pengajar sedang mendapatkan tugas ikut pelatihan dan kami diberikan kebebasan menggunakan lab komputer. Saat berhasil membuka aplikasi tersebut, tak sengaja melihat foto ayah muncul di saran pertemanan.

Awalnya aku mengabaikan saja, toh selama ini kami seolah sudah putus komunikasi. Namun, lama-lama rasa penasaran menggerogoti hati menuntun tangan untuk meng-klik foto tersebut. Di situ aku melihat beberapa foto ter-upload dan tak ada satu pun foto kami di galeri fotonya. Hal ini menguatkan keyakinan bahwa ayah memang sudah melupakan kami.

Sssttt … Sebenarnya sekarang kami terhubung. Belum lama sih, baru sekitar 6 bulan yang lalu. Itu pun karena ada inbox masuk dan memintaku untuk menerima pertemanan dengannya. Sempat ada ungkapan permintaan maaf dari ayah untuk kami tapi tak pernah kurespon. Rasanya cukup berat jari ini untuk membalas pesannya. Bagiku, cukuplah dia berada dalam daftar teman saja.

Suatu saat, bunda sakit dan Amira seolah kehilangan pegangan, sehingga aku diizinkan pulang dari asrama untuk merawat bunda. Amira sering menangis minta diperhatikan bunda sementara bunda sedang lemah tak berdaya. Beruntung saat itu akhirnya Amira mau diajak main. Kayaknya ini pertama kali dalam seumur hidup aku dan Amira main bareng. 😂

Namun, saat Amira bertanya “papa mana?” dengan wajah polosnya, aku tak kuasa menahan air mata yang diam-diam berlari di selasar pipi. Tak bisa dipungkiri, Amira pun kangen sama ayah.

Sabar ya, Sayang! Kakak sayang Amira. 😘

rumahmediagrup/wina_elfayyadh