As Simpliest and Easiest

As Simpliest and Easiest

Pernahkah ketika kita merasa stucked saat menulis lalu curhat pada orang lain yang sekiranya bisa mencarikan solusi? Lalu setelah sekian lama berdiskusi, hati merasa belum puas dengan jawaban dan arahan yang diberikan kepada kita? Kita masih terus merasa blank, benar-benar merasa otak kosong dan tak ada yang bisa diangkat menjadi bahan tulisan.

Artinya, masalah itu sebenarnya berasal dari intern kita. Diri kita sendiri yang bermasalah hingga tak sedikitpun inspirasi berkenan hadir dalam pikiran kita. Entah apakah merasa tertekan dengan tuntutan, mengerjakan sesuatu yang bukan keahlian kita, dan sebagainya.

Ya. Mungkin sebenarnya diri kitalah yang bermasalah hingga merasa tak ada satupun solusi dari orang lain yang sesuai untuk membantu menyelesaikan kebuntuan yang terjadi. Akibatnya alih-alih mendapatkan solusi, justru kita makin terperosok ke dalam ketakberdayaan. Tiada petunjuk maupun pencerahan.

Beranikah kita mengakui kepada diri sendiri bahwa tuntutan terhadap diri terlalu tinggi melebihi kapasitas dan kemampuan saat ini? Dibayangi oleh kekhawatiran akan menghasilkan tulisan yang buruk padahal kita ingin membuat karya yang terbaik? Kita takut hasil pekerjaan akan ditertawakan orang lain karena hasil karya orang lain lebih bagus serta seribu ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan-kecemasan yang sebetulnya tidak perlu diangkat ke permukaan.

Faktanya, yang namanya inspirasi itu sangat banyak. Tak terhitung. Mereka semua ada di sekitar kita. Menunggu waktu yang tepat untuk ditangkap dan segera dieksekusi. Tinggal adakah kepekaan dari kita untuk bisa menemukan dan menangkap mereka?

Ketika kita mengatakan, “Tak ada ide. Makin blank.” Maka terlebih dahulu yang harus dibereskan saat ini adalah “kita” sebagai si pembuat karya.

Berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari. Lalu hening dan baca diri sendiri. Apakah kita tahu diri sendiri luar dalam? Apakah kita tahu kekurangan dan kelebihan kita? Apakah ada gambaran ideal yang kita harapkan dari diri sendiri, dan apakah kita bisa menerima itu semua dengan berbesar hati? Adakah potensi khusus yang bisa dikembangkan?

Lalu pikirkan apa yang kita inginkan dari diri ini sekarang? Mampukah memenuhi tuntutan-tuntutan yang datang? Jika tidak bisa untuk saat ini, maka buatlah perencanaan-perencanaan yang mendukung ke arah sasaran yang ingin dicapai. Carilah hal-hal yang bisa membantu kita meraih pencapaian tersebut yang sesuai dengan kadar kemampuan diri.

Mari berpikir simpel tetapi jangan terlalu sederhana. Mari berpikir jauh ke depan tetapi jangan dengan mempersulit diri. Lakukan apa yang kita bisa saat ini sambil terus memutar otak agar mencapai tujuan akhir yang sudah dicanangkan sebelumnya. With the easiest and the simpliest things.

Ingatlah bahwa hal yang besar berawal dari hal kecil. Untuk menuju yang besar, maka kita harus mau meniti dari yang terkecil dan tersimpel terlebih dahulu. Kenali dan gali potensi diri sebelum men-judge diri sendiri payah, tak berkemampuan, tak berdaya, dan sebagainya. Ingat, bagaimana kita itu ditentukan oleh pola pikir kita sendiri.

Bila saat ini kita “merasa” belum mampu membuat mahakarya, maka buatlah karya yang sesuai dengan kapasitas kemampuan diri. Berdamailah. Terima diri dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Buat apapun yang kita mampu. Masalah penilaian orang lain akan seperti apa, tak usah diambil pusing. Just keep moving on, Sobat.

Jadi ketika saran, nasihat, masukan, usul dari orang lain tak ada yang berkenan di hati kita, berarti kitalah yang harus mencarikan solusi bagi diri sendiri. Stop bergantung pada orang lain. Kita lebih tahu diri sendiri, di mana batas kesanggupan maksimal. Bangkitlah dengan kekuatan kita sendiri! Bisa? Coba dulu.

Jika kita mampu mengenali potensi diri, saat masalah datang maka kemampuan untuk solved the problems akan lebih adaptif dibandingkan dengan yang tidak sanggup mengenali diri sendiri dengan sebaik mungkin. Jadi tak perlu bertanya pada orang lain tentang masalah yang terjadi dalam diri kita sebelum menggalinya sendiri terlebih dahulu. Mereka bukan peramal yang sanggup menerka dan menebak.

So, we don’t have to be worry because we are the one who have the control of our selves.

Mari lanjutkan menulis. Tulis apapun yang kita mampu dengan perasaan bahagia dan merdeka. Jangan berhenti menulis sekalipun sedang stucked. Tekankan pada diri sendiri bahwa kita “bisa!”

Insya Allah, ide-ide akan mengalir dengan derasnya. Selamat menulis. Selamat bahagia. Salam literasi.

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah