Arti Tangismu

Arti Tangismu

Siang menjelang sore, seperti biasa aku sibuk di dapur mempersiapkan menu untuk berbuka puasa. Sementara balitaku yang baru genap berusia satu tahun asyik dengan mainannya. Kulihat suamiku masih sibuk di halaman depan, menanam rumput dan merapikan tanaman pagar.

Tiba-tiba anakku menangis, aku pikir dia mengantuk. Kutinggalkan dapur dan bergegas menggendongnya. Diberi ASI tidak mau, kubuatkan susu dalam botol pun ditolaknya. Tangisnya semakin kencang.

“Kenapa? Yuk, sini sama ayah.”

Suamiku meraihnya dari gendongan setelah terlebih dahulu mencuci tangan. Setelah diajak keluar, tangisnya reda. Oh, mungkin dia jenuh bermain sendirian. Agak lama juga tadi kutinggalkan memasak, meski sesekali kuintip dari balik pintu dapur.

Tidak berapa lama, anakku kembali menangis. Suami membawanya masuk.

“Bun, mungkin si adek ngantuk.”

“Tadi bunda kasih ASI ngga mau, Yah. Susu botol juga sama aja.”

“Mungkin badannya ga enak. Ada yang dirasa,” suamiku menduga-duga.

Ah, mungkin cuma rewel aja. Bisa jadi karena cuaca yang panas jadi kegerahan. Aku ambil gendongan. Sambil kusenandungkan solawat nabi, akhirnya dia tertidur.

Tidurnya pulas, pikirku. Ku lepaskan kain gendongan dan meletakkannya di atas kasur. Tapi malah terbangun dan kembali menangis kencang.

Aku coba periksa diapersnya, walaupun siang tadi baru diganti karena buang air besar. Ternyata, anakku buang air besar lagi. Oh mungkin ini yang membuatnya tidak betah. Segera kuajak ke kamar mandi. Ketika dibersihkan, tangisnya kembali pecah. Tidak biasanya, seperti ada sakit yang dirasa.

Di kamar, aku periksa paha dan selangkangannya. Kulitnya memerah dan lecet! Karena luka yang bergesekan dengan diapers makanya anakku menangis. Benar saja dugaan suamiku. Ada sakit yang dirasa. Ya Allah, kenapa aku kurang peka? Sedari tadi anakku menangis kencang karena menahan sakit. Maafkan bunda, ya, nak

WCRumedia/yuyunkho