Arisan Mak Munah

Arisan Mak Munah

Semua pemberitaan didominasi dengan hal berkaitan dengan corona. Mak Munah prihatin, setiap kali menonton televisi, melihat media sosial, atau membaca koran, beritanya selalu tentang corona. Penyebarannya yang begitu cepat, korban yang semakin hari bertambah banyak, membuat mak Munah sangat khawatir.

Mak Munah pun bertambah prihatin karena sekolah diliburkan untuk waktu yang lama. Itu artinya mak Munah harus mengawasi ketiga anaknya yang masih duduk di sekolah dasar kelas 6, 4, dan 2, supaya belajar di rumah dan tidak keluyuran main.

Tugas dari guru didapatkan anak-anak dan disetorkan hasilnya lewat whatsapp. Kalau mak Munah tak berteriak-teriak, anak-anaknya lupa akan tugas sekolah dan asyik menonton televisi.

Hari ini hari minggu. Mak Munah bisa sedikit santai. Tugas sekolah sudah selesai dikerjakan anak-anaknya. Mak Munah pun sudah selesai memasak. Sambil duduk selonjoran di lantai, mak Munah membuka grup whatsapp ibu-ibu arisan di tempat ia tinggal.

“Ibu-ibu, minggu depan arisan kita gimana nih? Kan kita ga boleh ngadain acara kumpul-kumpul dulu.” Bi Isah memulai chatingan.

“Iya, sebaiknya kita undur saja sampai kondisi membaik,” balas jeng Erna.

“Kumpulkan aja uang arisannya, tapi ga pake kumpul-kumpul dan makan-makan ya,” mbak Sumi menyambung obrolan.

Beberapa ibu yang lainnya ikut berkomentar. Saling memberikan pendapat. Alhasil didapatlah kesepakatan bahwa pembayaran arisan berjalan seperti biasa, mengingat itu adalah hak pemenang. Hanya saja tanpa ada kumpul bersama, berbagi cerita, dan tanpa canda tawa. Uang arisan pun ada yang ditransfer pake internet banking.

Mak Munah sedih. Arisan yang biasanya menjadi acara shilaturahim sesama tetangga kini libur sementara. Padahal dengan berkumpul seperti itu mak Munah bisa berbagi cerita dan ngobrol seputar aktifitas emak-emak rumah tangga.

Wabah virus corona mengubah suasana menjadi mencekam. Bagaimana tidak, mak Munah selalu merasa was-was untuk pergi keluar rumah. Anak-anak pun tak diperbolehkan bermain di luar gerbang rumah. Berkumpul dengan tetangga juga tak bisa.

Mak Munah berharap semoga semua akan segera berlalu. Semoga pandemi ini segera berakhir. Semoga anak-anak kembali dapat belajar dan bermain dengan teman-teman sekolahnya. Semoga mak Munah bisa lagi berkumpul bersama para tetangganya.

Dan harapan itu selalu mak Munah panjatkan dalam setiap sujudnya. La hawla wala quwata illa billah.

Rumedia/yuyunkho