Apakah kamu selalu membaca buku (asli)?

Selamat Pagi Teman.
Hari ini H-1 Ramadan ya. Tidak terasa besok dini hari kita sudah mulai sahur dan menjalankan ibadah puasa. So. Maaf lahir batin gaes.

Hari ini juga adalah hari buku dan hak cipta sedunia. Tahukah teman mengapa Unesco memilih tanggal 23 April sebagai hari buku dan hak cipta?
Sebab 23 April bertepatan dengan meninggalnya William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega, serta pada tanggal ini juga bertepatan dengan hari lahir atau kematian beberapa penulis terkenal lainnya. Ditetapkan 65 tahun yang lalu hari buku dan hak cipta diharapkan mampu menjadi momen untuk mempromosikan kegiatan membaca, penerbitan dan pastinya juga hak cipta.

Tahun ini penyelenggaraan hari buku dilakukan di Kuala Lumpur, sebagai Ibu Kota Buku Dunia, tapi dengan adanya wabah corona, gema kegiatannya tidak terasa. Tapi tak mengapa. Justru sekarang saat di rumah saja, buku akan menjadi teman yang akan menghilangkan kejenuhan dan membawamu bertualang kemana saja.

Mengapa hari buku disandingkan dengan hak cipta?

Ini sebuah pertanyaan menarik. Sebab buku sebagai salah satu karya abadi anak manusia termasuk produk yang sangat seksi untuk dibajak. Kondisi ini tentu berhubungan dengan rendahnya penghargaan atas hak cipta. Padahal melahirkan sebuah karya pastinya bukan hal yang mudah. Ada proses panjang yang dilewati penciptanya, dan sayangnya begitu karya itu menarik dan disukai, pembajakan dengan mudah menyertainya. Hal yang sangat miris.

Saat membeli buku bajakan, kita tidak hanya merugikan penulisnya, namun juga penerbit yang telah memiliki hak untuk menerbitkan buku tersebut. Serta merugikan diri sendiri.

Apakah kamu pernah membeli buku bajakan?

Para pembeli buku bajakan, yang memang berniat membeli karena harganya yang murah menurut saya telah melakukan kejahatan. Ini seperti penadah dan pembeli barang curian.

Mengapa?

Sebab buku yang dibeli diketahui adalah buku bajakan, namun tetap dibeli karena harganya murah. So, buku bajakan bukankah buku curian? Buku yang diproses dengan cara yang tidak benar. Buku yang diedarkan namun merugikan penulisnya dan penerbitnya.
Akad jual belinya menjadi tidak sah, karena yang menjual bukan pemilik hak untuk menjual buku tersebut.

Lagi pula teman, jika kamu betul-betul ingin membaca buku dan tidak sanggup membelinya, bukankah bisa meminjamnya? Pun kamu bisa ke perpustakaan atau mengakses perpustakaan digital yang pasti akan memuaskan kebutuhan membacamu.

Mari, masih banyak cara untuk membaca buku dengan benar lagi baik.
Jika tetap ingin memilikinya, maka hargai dirimu sendiri dengan membeli buku asli.

Stop buku bajakan.