APA SALAH KU?

Sam kecil berlari-larian di dalam rumah. Diusianya yang baru tiga tahun, dia tumbuh dengan cepat dan aktif. Dia melompat dengan lincah melewati rintangan yang dibuat dari bantal dan guling. Katanya sekarang di lagi jadi Joki. “Hiat ..hiat.. ayo cepat! Katanya sambil menepuk guling kecil yang jadi kudanya. Ku biarkan dia menikmati imajinasinya. Membiarkan dia bahagia dengan dunianya. Setelah adanya wabah covid-19 dan anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah, Sam lebih banyak main sendiri. Setelah bosan bermain dengan mainannya, kadang dia bermain dengan alat-alat dapur atau main bantal guling. Seperti hari ini.

Sementara aku terus mengerjakan pekerjaan rumahku. Sebentar ku tengok ke ruang keluarga. Sam masih asyik dengan mainannya. Ku lanjutkan pekerjaan rumahku, nyetrika baju. “Samsul, apa yang kau lakukan?” Teriak suamiku. Buk! Suara benda dibanding, diikuti jeritan Sam. Aku tersentak, segera ku matikan setrika dan berlari ke arah suara. Nampak Sam menangis di sudut kamar ku. Potongan lembaran uang kertas berserakan. Sepertinya Sam asyik menggunting lembar uang yang ditemukannya di atas meja riasku.

Ku raih Sam yang masih menangis. “Lihat ulah anakmu!” wajah suamiku merah padam memendam marah. “Sabar, Mas! Namanya juga anak kecil” kataku. “Apa? Sabar? Mencari uang itu susah. Untuk mendapatkan itu butuh kerja keras. Dan malah di gunting? Kamu enak di rumah. Dengan mudah bilang sabar! Sabar! Sabar! Tidak merasakan betapa susahnya aku mencari uang!” “Uang bisa dicari Mas, tapi sakit hati Sam tidak akan bisa terobati. Lagian kenapa Mas simpan uang dimana aza?” “Oh, jadi aku yang salah? kamu yang salah, ngurus satu anak saja tidak becus!”

Aku diam, tidak aman jika diteruskan. Lebih baik aku mengalah. Bruk! Mas Bram masuk kamar sambil banting pintu. Beberapa saat masih terdengar suara barang berterbangan dan omelan Mas Bram yang tak jelas. Ku abaikan saja. Aku fokus pada Sam yang sejak tadi menangis sambil memegang kepalanya. Entah apa yang dilakukan Mas Bram pada Sam, sepertinya Sam sangat kesakitan. Ku periksa tubuhnya. Tangisannya reda. Sam menatapku seolah berkata “Bunda, apa salahku?” “Kamu tidak salah Nak. Maafkan ayah ya!” “Apa yang kau rasakan? Bilang sama Bunda, mana yang sakit?” Sam masih diam. Tubuhnya lemah. Dia terus menatapku. Air mataku semakin tak bisa ku bendung, sambil telusur tubuhnya dengan jariku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Segala macam doa ku panjatkan semoga Sam baik-baik saja.

Tiba-tiba Sam muntah-muntah. Badannya kejang. Aku teriak-teriak minta tolong. Ku panggil Mas Arya, dia tak menjawab. Kamarnya masih terkunci entah tidak mendengar atau masih marah. Aku panik. “Dik, jemput Kakak sekarang. Antar ke rumah sakit! Ku telpon adik bungsuku yang kebetulan rumahnya tak jauh dari rumahku. Selang 5 menit dia sudah datang. Dan segera melaju ke Rumah sakit terdekat.

Sam tergeletak tak berdaya. Dari balik kaca jendela kamar perawatannya, ku lihat para perawat an dokter dengan sigap memeriksa Sam. Aku hanya bisa menangis dan pasrah. “Sabar Kak, kita berdoa semoga Sam tidak apa-apa” hibur adikku. “Bunda, bagaimana keadaan Sam?” Tanya Mas Arya dia baru tiba di rumah sakit. Rasanya aku tak ingin menjawabnya, terlalu muak melihatnya “Maafkan ayah, ayah khilaf. Selagi di kamar ayah pake headset dan tertidur. Ayah tidak mendengar panggilan Bunda. Ayah baru tahu Sam dibawa kesini.”

“Ya, Allah lindungi anakku!” jeritku. Nampak dokter dan para perawat masih sibuk memeriksa Sam. “Bagaimana keadaannya dokter?” tanyaku begitu dokter keluar dari ruangan. “Ibu ini, ibunya Sam?” “Benar, Dokter saya ibunya. Bagaimana keadannya dokter? Apa dia baik-baik saja?” “Ibu..kami sudah melakukan usaha semaksimal mungkin. Namun Tuhan berkehendak lain. Maaf, Sam tidak dapat kami tolong.” “Apa? Tidak mungkin. Saaaammm!!!” bumi seakan berputar kencang. semua beterbangan dan tiba-tiba dunia menjadi gelap.

(Tamat)