Anxiety Disorder Karena UN Ditiadakan?

Anxiety Disorder Karena UN Ditiadakan?


“Bu, katanya UN ditiadakan, Bagaimana nanti nasib kami?” Isi chat salah seorang siswa di grup massanger kelas yang kubina.
“Benarkah berita ini, Bu?” timpal siswa yang lain dengan mengirim beberapa capture gambar percakapan yang beredar di akun media sosial.
Grup media sosial pembelajaran daring kelas menjadi ramai dengan komentar dan pertanyaan para siswa. Ada yang merespon dengan emoticon terkejut, sedih bahkan menangis.

Sami’na wa atho’na. Kita dengar dan kita patuhi aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tentu semuanya sudah dikaji dengan mempertimbangkan baik dan buruknya. Yang pasti, kita berdo’a saja keadaan kembali pulih dalam waktu dekat ini. Jika demikian, Ibu pastikan kalian akan tetap menggunakan seragam putih abu-abu itu di Juli, tahun ajaran baru nanti.” Aku memberi penjelasan kepada mereka, siswa yang kini duduk di kelas IX.

Beberapa tanggapan terkait penghapusan UN ini juga terlihat dari respon para orang tua dan masyarakat di jejaring sosial banyak yang mendukung, memberikan respon positif, namun tidak sedikit juga yang berkomentar negatif, bahkan menghujat. Namun semua itu tentu kembali kepada pribadi masing-masing. Pemerintah tentunya sudah mempertimbangkannya secara mapan.

Satu Minggu setelah diberlakukannya social distance dalam upaya pencegahan Pandemik Covid-19, banyak reaksi yang timbul dalam masyarakat, khususnya siswa. Bagaimana tidak? Mereka yang seharusnya di akhir semester ini akan memasuki tahap akhir pada jenjang pendidikan masing-masing harus tertunda dengan kondisi ini.

Beberapa siswa bahkan nekad datang berkunjung ke rumah guru hanya untuk memastikan kabar ini. Belum lagi orang tua mereka yang juga menghubungi dari telepon seluler.

“Si Dodi jadi stress, Bu. Dia sampai sakit perut dan bolak-balik ke kamar mandi.” papar salah satu siswa.
“Semalam kami diamankan Satuan Polisi Pamong Praja sewaktu mau melihat informasi di sekolah. HP android kami kan gak ada, Bu” Aron dengan polosnya menjelaskan.

Aku tersenyum. Menenangkan anak itu. Dia memang salah satu siswa dengan tingkat kecemasan yang tinggi dalam merespon informasi. Bahkan, dia sampai menangis demi mendengar siswa ‘dirumahkan’ beberapa hari yang lalu efek dari Pandemik Covid-19 ini. Guru BK di sekolah menyebutnya dengan istilah Anxiety Disorder.

Anxiety disorder adalah gangguan kesehatan mental yang menyebabkan penderitanya memiliki kecemasan berlebihan yang diikuti rasa takut dan khawatir yang akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Waupun hampir setiap orang pernah mengalaminya. Namun tingkat kecemasan itu tentunya berbeda-beda.

Penyebab gangguan kecemasan berlebihan hingga kini belum diketahui pasti, namun beberapa penelitian menunjukkan hal ini memiliki kaitan dengan gabungan beberapa faktor, misalnya faktor genetik, lingkungan, psikologis, dan riwayat tumbuh kembang seseorang.  Pendapatan ekonomi yang rendah, serta paparan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan di masa kanak-kanan dan dewasa juga dapat berdampak pada gangguan kecemasan berlebihan.

Masalah kelulusan, ijazah, PPDB dan lainnya tentu sudah diatur dan pemerintah tidak sembarang membuat kebijakan itu. Sekolah tentu dituntut untuk bekerja lebih ekstra dalam menyampaikan informasi ini kepada orang tua siswa. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di pedalaman dan tidak terjangkau akses internet, karena pertemuan tatap muka untuk sosialisasi juga tidak diperbolehkan demi memutus rantai penularan virus ini.

Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan. Sebaliknya, mari dukung dan dampingi anak-anak dalam masa krisis ini. Pastikan informasi yang kita peroleh akurat dan tunggu informasi lengkap dari pihak yang berwenang. Insya Allah anak-anak kita siap menjadi pribadi yang lebih cerdas, kritis dan unggul untuk Indonesia yang lebih baik.


RumahMediaGrup/MaySilla