Antologi Indie NuBar – Nulis Bareng Rumedia

Antologi Indie NuBar- Nulis Bareng Rumedia

“Teh, kalau buku antologi Nubar bisa dibeli di toko buku?”

“Kenapa buku antologi nggak dijual di toko buku?”

Dua pertanyaan tersebut cukup sering diajukan dari beberapa kontributor proyek antologi NuBar Rumedia. Biasanya pertanyaan ini diajukan oleh penulis yang baru terlibat di proyek nulis antologi, atau pernah terlibat proyek antologi di tempat lain tetapi beda prosedur dengan ketika bergabung di Nubar Rumedia.

Perlu Sobat Nubar ketahui bahwa menerbitkan buku antologi di penerbit indie pada umumnya itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Ada kewajiban membeli buku terbit. Ada penerbit atau komunitas yang menetapkan syarat wajib pembelian buku terbit. Ada yang boleh membeli hanya 1, 2, 3 eksemplar. Boleh memesan lebih dari ketentuan kewajiban utama beli buku, tentu saja harga rupiah yang dikeluarkan oleh kontributor disesuaikan dengan jumlah buku yang dibeli dan harga ongkir pengiriman.

Tidak ada kontrak tertulis. Yang namanya proyek antologi adalah suatu proyek nulis bareng yang melibatkan banyak penulis, sehingga tidak ada surat kontrak khusus sebagaimana layaknya ketika kita ingin menerbitkan buku solo. Yang biasa terjadi adalah kesepakatan yang dibuat dalam bentuk syarat dan ketentuan. SnK ini dibuatkan oleh pihak penyelenggara proyek nulis antologi yang kemudian disepakati oleh para kontributornya.

Ada diskon khusus. Ada beberapa penerbit indie yang memberlakukan diskon bagi kontributornya. Range berkisar antara 10 hingga 15%, ada pula yang menawarkan hingga 20 %. Itu tak jadi soal. Bagaimana kesepakatan antara pihak penyelenggara dan kontributor yang terlibat. Berbeda penerbit pasti berbeda kebijakan. Kontributor tidak bisa dan tidak boleh memaksakan setiap penerbit agar memiliki kebijakan yang sama.

Diskon 10% sama dengan fee bagi penulis. Penerbit memberikan diskon harga buku, khusus kepada kontributor karena penerbit atau pihak penyelenggara proyek antologi tidak memberikan keuntungan berupa royalti. Jadi kalau penulis antologi ingin mendapatkan fee dari menulis antologi itu mudah saja. Tinggal dijual saja buku terbit yang dipesannya pada PO (pre order) pertama alias menjual pesanan buku wajib. Harganya dijual dengan harga sebelum didiskon.

Contoh. Buku antologi yang kita ikuti berbandrol 60k per eksemplar. Di SnK dikatakan ada diskon 10% jika kontributor membeli buku tersebut. Maka penerbit atau pihak penyelenggara memberikan harga beli sebanyak 54k per eksemplar kepada kontributor. Kemudian kontributor menjual kembali buku yang dibelinya kepada umum seharga 60k per eksemplar. 60k dikurangi 54k yaitu 6k. Maka fee langsung yang didapat kontributor adalah 6k per eksemplar.

Jika kontributor menjual bukunya, maka ia akan mendapatkan fee. Tetapi jika ia tidak menjual atau mempromosikan bukunya, maka sudah jelas tidak ada fee baginya. Semakin banyak buku yang dijualnya, maka semakin banyak pula fee yang didapatkan.

Penjualan buku antologi lewat sistem PO alias Pre Order. Buku-buku antologi terbitan indie, pada umumnya tidak dijual atau pun di pajang di toko buku. Kita bisa mendapatkannya dengan cara membeli atau memesan kepada penerbit atau penyelenggara proyek antologi lewat sistem PO.

Sistem PO ini biasanya berupa pemesanan sejumlah buku, lalu langsung dibayar di muka dengan sejumlah uang hingga lunas. Barulah buku pesanan akan dicetak dan dikirimkan kepada pemesan.

Kenapa penjualan buku antologi di penerbit indie yang tidak atau belum bekerja sama dengan toko buku terkemuka memakai sistem PO? Karena penerbit indie biasanya menerbitkan buku antologi kurang dari 1000 eksemplar. Mencetak 1000 eksemplar buku tentunya membutuhkan modal yang cukup besar, sementara tidak ada jaminan sama sekali bahwa buku antologi yang diterbitkan akan laris manis di pasaran jika diterbitkan hingga 1000 eksemplar. Penerbit indie tidak mau mengambil risiko mengalami kerugian. Maka jika ingin buku antologi kita laku, apa yang harus kita lakukan?

Nulis? Yes! Marketer? Yes! Penulis antologi, terutama yang menerbitkan bukunya di penerbit indie dituntut tidak hanya pandai menulis, namun juga pintar memasarkannya. Penerbit indie tidak ikut membantu memasarkan. Tidak seperti penerbit mayor yang memasarkan buku-buku terbitan mereka di toko buku terkemuka.

Memang ada sih beberapa penerbit yang membantu memasarkan, tetapi biasanya buku yang dipasarkan berupa buku solo dan dipromosikan lewat online shop, lewat media sosial, atau bentuk digital. Faktanya, kini, penulis yang menerbitkan bukunya di penerbit mayor juga harus bisa memasarkan bukunya supaya bonus yang diberikan juga lumayan.

Jadi sebelum kita menuntut kesejahteraan ekonomi lewat karya yang kita buat, perlu juga dipertanyakan. Sudahkah kita ikut memasarkan buku yang kita tulis? Sudahkah rajin mempromosikannya kepada masyarakat? Sudah berkualitaskah buku yang kita tulis sehingga tidak lagi ada rasa malu atau sungkan untuk memublikasikannya kepada masyarakat?

Kenapa buku antologi terbitan penerbit indie ada yang sudah bisa dijual di toko buku terkemuka dan ada yang tidak? Pada umumnya, buku-buku yang dijual di toko buku terkemuka adalah buku-buku berkualitas, yang sudah jelas pangsa pasarnya, lekas terjual alias laris manis, serta ada jalinan kerjasama antara penerbit indie dan toko buku yang bersangkutan. Maka toko buku yang sudah melihat kualitas buku antologi bagus dan diminati masyarakat hingga laris manis di pasaran, pasti akan terus membuka kesempatan penerbit indie yang bersangkutan untuk menitipkan lagi buku-buku antologi untuk dipasarkan di tokonya.

Gambar: koleksi antologi Nubar Jabar Rumedia

Sebaliknya, jika buku antologi yang dipamerkan di toko buku tidak laku maka akan dikembalikan atau retur kepada penerbit yang bersangkutan. Masa titip jual buku biasanya berkisar antara 3 hingga 6 bulan. Setelahnya akan ada evaluasi. Buku yang dipajang laku apa tidak.

Hak cipta buku antologi di penerbit indie. Jika kita menulis di proyek antologi penerbit indie, saat tidak jadi menerbitkan atau cancel, maka naskah akan otomatis di-delete oleh penerbit. Naskah tidak akan diklaim atau diakui sebagai hak cipta milik penerbit, kecuali ada perjanjian khusus sebelumnya. Jadi kalau kita ingin menerbitkan naskah yang ditarik kembali tersebut lalu diikutkan ke event nulis di komunitas yang berbeda, itu sah-sah saja.

Ada satu etika yang perlu diingat dalam dunia literasi bahwa ketika kita sudah menerbitkan satu karya di satu penerbit lalu ingin menerbitkannya di penerbit lain, maka dimodifikasi dahulu isi naskahnya. Jangan sama persis. Lalu berikan keterangan bahwa naskah tersebut pernah diterbitkan di mana dan setelah direvisi ulang akan diterbitkan kembali di media berbeda atau media yang dituju saat ini.

Bagaimana Sobat Nubar tentang penjelasan soal antologi di indie? Sudah cukup jelas? Semoga bermanfaat, ya.

Jika ingin mengajukan pertanyaan, memberi saran, kritik atau masukan, silakan di kolom komentar. Terima kasih dan salam literasi.

***

nubarnulisbareng.com/rheailhamnurjanah