ANAK KOS

Sekilas teringat jaman ngekos dulu yang apa-apa harus bisa serba mandiri, harus serba bisa meski terkadang hinggap perasaan nelangsa.

Balada anak kos, yang di haruskan berhemat hingga habis bulan, hanya bisa sedikit berfoya-foya just a few days.

Ah.. sedikit tersungging senyum kecut bila teringat.
Makan pun seadanya, asal kenyang sehat dan bergizi, yang jelas harus ramah di kantong.

Mungkin tidak semua berlaku untuk anak kos, hanya saja subsidi dari orang tuaku mengharuskan aku seperti itu.

Awal bulan bisa makan nasi goreng, ayam bakar dan makanan mewah lainnya, setelahnya mie instan menjadi teman akrab bila lapar melanda tiba-tiba.

Tragis..
Tapi begitulah adanya, hingga menempa diriku menjadi orang yang tiba-tiba ahli dalam hal manajemen keuangan.

Sama seperti halnya ketika kebutuhan sabun batang hampir habis, tak serta merta di buang begitu saja. Sayang…

“Ma, kirim uang kapan?” tanyaku di sela telepon rumah
“Sebentar lagi Nduk, sabar. Kan akhir bulan seperti biasa”.

Aku yang sudah tahu jawabannya tetap menanyakan.
Terkadang hanya bertanya kabar, saling menanyakan kegiatan sehari-hari.

Aku yang menyesal ketika jauh dari rumah, jarang membantu kegiatan Mama di rumah.
Kini merasakan, padahal yang aku urus hanya kebutuhanku saja. Contoh paling simpel adalah mencuci baju.

Sore itu ketika rutinitas berkabar dengan Mama.
“ Ma, bajuku yang putih itu kena noda, padahal lusa di pakai Ma, udah tak kucek lho Ma padahal, tetep ndak bisa bersih, piye ini Ma?”.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu