Aku Tak Mau Cerai

“Aku tak mau cerai,” kataTuning dengan suara lirih. Lidahnya kelu. Tak ada lagi semangat yang tampak di wajahnya. Ia baru saja pulang dari memenuhi panggilan sidang perceraiannya yang ke empat di pengadilan agama. Agaknya, tak ada lagi jalan baginya untuk merajut kembali benang kusut pernikahannya dengan Toni.

Aku hanya termangu. Ikut hanyut dalam perasaannya. Tak ada lagi kata yang bisa kuucapkan sebagai penyemangat untuknya. Hanya kata sabar. Sabar dalam menghadapi ujian rumah tangganya. Sabar dalam menghadapi keretakan rumah tangganya yang sebentar lagi berujung putusnya tali pernikahan.

Duh Gusti, berat sekali beban yang harus ditanggung Tuning. Gadis desa yang polos itu, kini tak berdaya. Pernikahannya dengan Toni hanya berumur 4 tahun. Saat anaknya sedang lucu-lucunya. Saat mereka berdua harusnya bisa bercanda bersama dengan buah hatinya. Ternyata takdir berkata lain. Mereka harus bercerai. Kenapa perceraian ini harus terjadi?

Sejak menikah, Tuning harus mengikuti Tono yang tinggal serumah dengan ibunya. Sehari-hari bersama ibu mertua terasa berat di hati Tuning. Adaptasi, sudah ia lakukan. Nasihat dari ibunya pun juga sudah dilakukan. Tiap kali benturan dengan ibu mertua, Tuning berusaha untuk diam mengalah. Sampai suatu saat, ketika ia sedang capek mengurus Atong anaknya. Tiba-tiba mendengar ibu mertuanya menyindir masakan sayur asem yang dibuatnya.

“Nyayur asem koq kayak gini. Rasanya cuma kecut asin. Memangnya mau meracuni ibu yang sudah tua ini ya!” kata ibu mertua Tuning dengan suara keras. Tuning yang mendengar langsung menjawab dengan kesal.

“Kalau rasanya tak enak, ya ga usah dimakan Bu. Aku juga sudah capek-capek masak. Makhlum sambil momong Atong. Jadi kalau rasanya ngalor ngidul ya wajar.”

Mendengar jawaban Tuning, ibu mertuanya ga terima.
“Eh, kamu koq berani bantah ucapannya Ibu. Sudah baik kamu jadi menantu Ibu. Coba kalau Toni ga menikahimu, pasti kamu jadi perawan tua.” Ucapan ibu mertuanya serasa menusuk hati Tuning. Belum sempat ia berucap, ibu mertuanya sudah berkata lagi.

“Aku akan bilang Toni, biar kamu diceraikan saja. Buat apa punya menantu yang ga bisa menyenangkan hati ibu. Tak bisa masak lagi.” Ucapan ibu mertuanya ini seakan kilat petir yang menyambar di siang bolong. Tak habis pikir oleh Tuning, hanya karena sayur asem berujung pada kata cerai.

Singkat kata. Tak ada kesempatan untuk membela diri. Sore itu juga. Sepulang dari kerja. Entah apa yang diceritakan oleh ibu mertuanya. Toni langsung menyuruh Tuning mengemasi semua baju-bajunya. Tak ada selembar bajupun yang tersisa di lemari kamar yang sudah ditempatinya sejak menikah itu.

“Baju Atong tak usah kamu bawa. Atong akan tinggal denganku. Kamu tak antar pulang ke rumah orang tuamu. Dan tunggu kabar dariku selanjutnya,” kata Tono dengan wajah serius dan tak memberi kesempatan Tuning untuk bertanya lagi.

Kesedihan yang tak bisa dilukiskan dengan apapun juga. Dan yang paling menyedihkan adalah saat harus berpisah dengan Atong. Anak itu masih butuh belaiannya saat tidur. Kenapa pula harus dipisahkan dengan Atong? Belum sempat ia bertemu Atong, tangannya sudah ditarik paksa oleh Tono.

“Ayo, berangkat. Tak usah kau cari Atong. Sudah ada yang mengurus Atong.” Tangan Tono menarik lengan Tuning dengan keras.

“Duh Gusti, apa yang telah terjadi. Hanya karena pertengkaran kecil dengan ibu mertua masalah sayur asem, aku harus dipulangkan. Aku harus pisah dengan Atong dan suamiku. Ya Allah…aku harus bagaimana?” Tak terasa buliran air mata mengembang di matanya. Jatuh menetes membasahi kerudung birunya.

Dipandangnya punggung suaminya yang sedang konsentrasi dengan motornya. Kembali ingatannya melayang kala ia dibonceng pertama kali saat boyongan ke rumah mertua selepas acara pernikahan. Sekarang, dibonceng suami untuk dipulangkan ke rumah orang tua. “Duh Gusti, kuatkan aku,” batin Tuning.

Sebulan kemudian, surat undangan dari pengadilan datang. Bulan ke dua, ketiga, dan kini bulan keempat ia memenuhi panggilan pengadilan. Sidang ke empat yang harus dijalani. Putusan hakim sudah final. Tuning dan Tono harus bercerai.

“Aku tak mau cerai, Mbak,” kata Tuning dengan tangis yang pecah. Membuyarkan segala segala rasa yang berkecamuk dalam hati dan pikiranku. Aku harus bisa membangkitkan semangatnya. Paling tidak, bisa membuatnya tak putus asa dan tetap semangat menjalani kehidupan.

“Tuning, harus sabar ya.” Kurengkuh badannya dalam pelukanku. “Ingat Tuning, setiap masalah yang datang pasti ada penyelesaiannya. Ketika kamu diuji dengan masalah, sejatinya Allah Swt sudah mengukur masalah tersebut sesuai dengan kemampuanmu. Jadi, yakinlah bahwa kamu bisa mengatasi ujian ini. Di balik setiap ujian, pasti tersimpan hikmah terbesar untukmu. Bisa jadi, Allah Swt akan menyiapkan kamu menjadi lebih baik lagi.”

Tangis Tuning mereda. Kulihat tangannya yang tadi merangkulku dengan kuat, kini mengendur. Nafasnya sudah mulai teratur. Sesekali, tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi.

“Tuning, ini ujian untuk rumah tanggamu. Jika takdir kalian memang harus bercerai, maka dijalani saja dengan penuh keikhlasan. Meskipun untuk ikhlas itu memang terasa berat. Tak ada orang yang menginginkan perceraian. Bahkan Allah Swt juga tak menyukai dengan perceraian.” Kata-kataku mengalir begitu saja. Entah, ada kekuatan apa yang membuat aku begitu mudah mengeluarkan kata-kata.

“Tuning, jadikan ujian ini sebagai satu pelajaran. Aku pun juga belajar dari perjalanan rumah tanggamu. Suamimu memang terikat dengan baktinya pada ibunya dan juga kewajiban penjagaan terhadapmu sebagai isterinya. Ternyata ia tak mampu untuk melakukan keduanya secara bersamaan. Ketika dihadapkan pilihan antara ibunya dan dirimu, ia lebih memilih ibunya kendati sebenarnya ia pun masih sayang denganmu. Apalagi dengan Atong buah hatinya.” Ku lihat wajah Tuning sedikit cerah. Tak lagi ia menangis.

“Memang ketika kamu harus hidup serumah dengan ibu mertua, ibaratnya kamu berdiri di atas duri. Orang Jawa bilang, “ancik-ancik nang ndhuwure eri”. Kalau kita tidak bisa menjaga diri, maka entah kita ataupun ibu mertua yang akan tersakiti. Dan ketika tersakiti, maka akan sulit sekali sembuhnya. Di sinilah sebenarnya butuh kebijakan dari suamimu. Seharusnya suamimu bisa menjaga kedua hati dengan baik. Menimbang dan merasa, sesuai porsi masing-masing. Jadi, selain bisa berbakti pada ibunya, juga bisa melaksanakan tanggungjawabnya sebagai imam bagi isteri dan anaknya.” Kulihat Tuning mengangguk sedih.

“Iya Mbak. Aku sedikit lega. Paling tidak, aku masih bisa bersyukur. Putusan pengadilan tadi, meskipun kami harus bercerai, tapi pengasuhan Atong jatuh padaku. Dan selama Atong belum berusia 17 tahun, Mas Toni masih terbebani memberi nafkah untuk biaya sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Doakan ya Mbak, aku kuat menghadapi ini,” kata Tuning sambil menatapku tersenyum.

Aku tersenyum mengangguk. Ku acungkan jempol untuknya. “Tetap semangat ya Tuning. Kalau kamu ada kesulitan apapun, insyaAllah Mbak Ani siap membantu. Kamu dan Atong sudah ku anggap sebagai keluarga sendiri. Jadi, tak perlu sungkan.”

Tuning pun pamit pulang. Jalannya terlihat gontai. Ku pandangi tubuhnya yang semakin kurus karena penderitaannya. Dia tak sendiri. Banyak perempuan yang mengalami nasib sama seperti Tuning. Rumah tangga yang tak harmonis, retak sampai bercerai karena banyak faktor. Entah karena perselingkuhan, ekonomi tak mapan, rasa egois suami isteri yang tak mau mengalah, sampai perselisihan antara mertua dan menantu.

Ah, Tuning. Kamu masih muda. Perjalananmu masih panjang. Anakmu sangat membutuhkanmu. Semoga kamu kuat Tuning. Sayup-sayup terdengar murottal dari masjid tanda adzan ashar segera berkumandang. Ayat yang dibacanya pun terasa pas. Sesuai dengan yang terjadi pada Tuning.

 وَإِنْ عَزَمُوا الطَّلَاقَ فَإِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya :
Dan jika mereka berazam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Baqarah : 227)

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik/kategorisegar/april2