Aku Sudah Mudik

Aku Sudah Mudik

Meributkan mudik dan pulang kampung bagiku tidak masalah. Toh, sekarang kami sekeluarga sudah tinggal di kampung. Menjadi orang udik yang hakiki.

Bagi para saudara dan tetangga perantauan, pulang kampung adalah pilihan utama. Apalagi yang belum memiliki rumah dan pekerjaan tetap. Tidak perlu bayar sewa, kerja di kota pun tidak bisa. Di kampung, “mangan ora mangan, sing penting kumpul”.

Di lain sisi, pilihan bagi orang “kecil” cukup simpel. “Selamat”. Di kampung, suasana desa yang tenang, udara segar, makanan sehat berlimpah, dan harga terjangkau. Terutama karena KTP masih sebagai orang udik. Di kota. Tak mendapat bantuan pemerintah. Di desa, KTP itu menolongnya. Setidaknya, mendapat bantuan makan keluarga.

Sebagian lagi pulang untuk sungkem kepada orang tua. Mengingat sesepuh sudah renta dan sendiri. Tak tega rasanya jika tak kembali. Sekadar menengok beberapa hari, cukup mengobati rindu. InsyaAllah semua sehat ketika pulang. Berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan, demi Indonesia sehat.

Sebagian perantauan tetap di kota. Mematuhi protokoler kesehatan. Walaupun keadaan melilit. Rumah sempit, udara pengap, tak boleh keluar rumah. Sadar diri, semua diusahakan untuk sehat.

Perbedaan pilihan hidup tidak membuat kami terpecah-belah. Sebagai orang desa yang memilih merantau, hidup kami sudah sulit. Keadaan sekarang tidak perlu membuat hati menjadi lebih sesak dengan persoalan pilihan mudik atau pulang kampung. Semua ada konsekuensi.