AKU MAU MUDIK, TAPI …

Raut muka Ali tampak di tekuk. Setelah berbuka puasa dan shalat magrib dia mengunci di kamar. Dia masih kesal dengan penjelasan Bundanya.

“Lebaran ini kita tidak ke rumah Eyang Putri, kan lagi wabah. Dilarang sama pemerintah!” Jelas Bunda. Ali tidak terima dia sudah sangat ingin bertemu dengan neneknya di Jawa. Maklum cucu laki-laki pertama, mesti di istimewakan oleh neneknya. “Kan kita bisa pake masker, pake sarung tangan. Kita kan bawa mobil sendiri, jadi tidak menggannggu orang lain!” “Benar. Tapi kemungkinan ayah masih di Jakarta. Gak bisa pulang. Karena disana kan sudah zona merah.” Bunda mencoba menjelaskan. “Jadi, lebaran ini ayah gak pulang?” Nadanya mulai meninggi. Bunda mengangguk.

“Iiih, gara-gara si korona ini, aku jadi gak bisa ke rumah nenek, ayah gak pulang. Gak usah lebaran sekalian!” “eeehhh, kok gitu. Sabar Nak, ini ujian. Wabah ini sebagai sebab saja, hakikatnya Allah yang menentukan. Allah yang menguji kita dengan wabah ini. supaya kita lebih meningkatkan keimanan kita. Melatih kesabaran kita.” Ali diam dan memilih pergi ke kamarnya meninggalkan Bunda yang terlihat sedih. Rasa bete nya belum hilang. Masih belum menerima kenyataan. Kemarahannya makin memuncak mengingat ayahnya yang sudah berjanji akan membelikan hadiah saat lebaran nanti. Dan sekarang ayah tidak pulang?

Tiiit tiiit tiiit!

Gawainya berbunyi. Ali langsung mengusap layar tipis di tangannya. Chat dari Furqon temannya di pondok.

“Li, kamu mudik gak?”

“Gk. Aku lagi kesel sama bunda dan ayah. Udah janji lebaran ini akan berkunjung ke rumah nenek. Eeeh dibatalin.”

“Ya. sabar Li. Ini kan buat kebaikan kamu juga. Mengingat wabah sedang melanda negara kita. Nanti kan kalau sudah reda, kamu bisa main ke rumah nenek, atau kamu juga bisa video call sama nenek dan ayah mu kan?”

“Iya, sich. Tapi rasanya beda Qon, kalau lewat Vicall dengan bertemu langsung.”

“Memang, tapi kamu harus bersyukur. Mungkin saat lebaran saja kamu tidak bisa bertemu langsung dengan ayah atau nenekmu. Setelah pandemi berlalu, kalian masih bisa berkumpul bersama kan?”

“Ya. sich”
“Jadi sebenarnya bukan, tidak bisa bertemu, hanya pertemuannya saja yang diundur.”

Ali mengangguk. Benar juga apa yang dikatakan Furqon.

“Beda dengan aku. Aku ingin sekali mudik. Atau pulang kampung, atau apalah namanya, Tapi … “

“Tapi kenapa?”

Lama tak ada jawaban. Ali menduga-duga apa yang terjadi dengan Furqon, sahabatnya.

“Li, aku sangat merindukan orang tua ku.” plus emotikon menangis.

“Tapi, aku tidak bisa bertemu dengan mereka.” Chat nya berhenti.

“Baik karena ada wabah atau tidak, bertemu dengan mereka itu sebuah kemustahilan.”

“Lho, kok bisa?”

“Iya, Li. Karena mereka sudah meninggal. Seminggu sebelum aku masuk pondok”
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Maafkan saya Qon. Saya tidak tahu.”

“Gak pa-pa Li. Sekarang saya sedang berusaha menerima.”
“Trus kamu sekarang dimana?”
“Di pondok saja. Sama ustadz. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Aku masih punya paman dari ayah, tapi jauh di Jawa.”
“Kalau gitu, kamu kesini aja Qon. Mudik ke rumahku saja!”

“Lha kamu nie piye Li, Li. Kan lagi di lockdown plus PSBB. Ya gak bisa kemana-mana atuh.”
“Oh iya ya.”
“Yo wes, sekarang kamu sing sabar dan harus sadar. Ada yang lebih menderita dari kamu toh?”
“Gak usah marah-marah lagi. Apalagi sama mamah mu. Dosa besar lho. Aku pamit dulu ya. Ustadz Romli manggil aku. Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.” Ali termenung sejenak dia tutup gawainya. Lalu buru-buru dia keluar kamar, menyisir sekeliling rumah mencari Bunda. Akhirnya, Dia melihat bunda sedang mengaji di musalla kecil di belakang rumah.
Bunda menghentikan mengajinya saat melihat Ali mendekat. Ali duduk dan sujud di pangkuan Bunda.

“Bunda. Maafkan Ali ya. Ali tadi marah-marah sama Bunda!” Ali tak bisa menahan tangisnya. Bunda merangkul Ali dan memeluknya. “Tidak apa-apa Nak. Ini ujian untuk kita semua. Terus berdoa semoga wabah ini segera berlalu. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita agar kita bisa senantiasa bersabar dan bersyukur.”
“Nah, sudah adzan Isya. Yuk kita shalat berjamaah dan lanjut shalat tarawih.”
“Baik, Bunda.”