Aku dan rasa cemasku Part. 3

Tak pernah terbayang dalam benakku melewati kehamilan pertama ini begitu penuh tekanan. Tekanan dari sibuknya pekerjaan dan juga tekanan rumah tangga. Setahuku orang hamil itu pantang sekali dibuat stres karena bisa menganggu tumbuh kembang si janin dalam kandungan.

Dan ini benar adanya, anak pertamaku ku ajak melewati banyak nya tekanan hidup. Banyak sekali masalah datang menghampiri, bahkan di usia kehamilan yang saat itu sudah menginjak 5 bulan aku sama sekali belum merasakan tendangan halus nya. Khawatir sekali padahal normalnya janin menendang perut ibu di umur 4 bulan kehamilan.

Aku hanya tinggal berdua dengan suami di rumah orangtua suami. Kedua mertua ku sudah wafat, aku tak pernah merasakan bagaimana dikasihi oleh keduanya. Sedang akupun jauh dari kedua orangtua ku. Belum lagi beban pikiran ku pada sesuatu masalah yang aku rasa ini cukup serius.

Sebelumnya suamiku pernah berpacaran dengan seorang wanita 8 tahun lamanya. Mereka berpisah karena wanita itu lebih memilih seseorang yang menurutnya lebih baik dari materi dibanding suamiku. Akupun tak begitu mengenal nya. Tapi semenjak kejadian ia datang ke kantor mencari suamiku, aku semakin curiga.

Ternyata mereka berdua masih berkomunikasi di belakang tanpa sepengetahuanku. Alasan nya entah apa suami hingga memyembunyikan masalah ini. Tapi rasanya saat itu aku sangat kecewa seperti tak dihargai. Aku malah berfikir buruk tentang hubungan pertemanan yang menurutku tak lazim bagi keduanya.

Ternyata, si wanita itu menagih hutang pada suamiku. Menagih beberapa gram emas yang pernah suami pinjam saat mereka masih bersama. Tapi wanita itu malah menagih padaku di kantor tempatku bekerja dan mengancam akan membeberkan kelakuan buruk suamiku, yang aku sama sekali tak tahu awal nya bagaimana. Aku kaget sekali akan kejadian ini.