Aku dan rasa cemasku Part. 1

Entah mungkin memang sejak kecil aku selalu menyerap kata-kata negatif hingga dewasa itu malah menjadi sebuah kecemasan dalam diriku. Seperti hal nya begini ketika ada orang yang mau meninggal di sekitar lingkungan rumah, akan selalu burung yang berbunyi entah itu pagi hari, siang hari atau sore hari.

Seakan menjadi pertanda, dan memang benar 3 sampai 7 hari kemudian datanglah kabar bahwa tetangga sekitar meninggal. Dan seperti sudah melaksanakan tugas nya suara burung itu pun hilang. Dan aku malah semakin meyakini adanya suara burung itu menjadi pertanda bahwa akan ada yang meninggal.

Hampir cukup lama aku membawa ketakutan ini. Aku sedari kecil memang sangat takut sekali mengenai kematian. Pernah juga ketika telinga kananku tiba-tiba tak bisa mendengar, keringat dingin, dan berfikir bahwa saat itu akan mati. Padahal itu hanya penyumbatan oleh kotoran dibersihkan pun sudah bisa mendengar dengan jelas lagi.

Kadang ketika sedang pulas tidur harus terbangunkan oleh suara burung seak, aku menamainya begitu karena nyaring suara nya terbang di atas atap rumah mengelilingi sekitar kampung. Eak.. Eak.. Eak, begitu bunyi nya, ia terbang menjelang subuh. Aku hanya diam karena takut memiringkan badan, dengan bercucuran keringat dingin juga.

Hendak membangunkan ibuku pun rasa nya badan kaku padahal jarak antara ibu dan aku hanya beberapa jengkal. Pikiranku pun mulai menerka siapakah di lingkungan ini yang akan meninggal. Jika dirasa suara semakin dekat dan berhenti di atap rumah aku malah sangat ketakutan seakan akulah yang menjadi target malaikat pencabut nyawa.

Namun bila suara burung itu semakin menjauh hingga tak terdengar lagi barulah aku menarik nafas dengan lega. Sambil mengusap keringat di dahi, selalu begitu adanya ketika aku mendengar suara burung perasaan takutku muncul, rasa cemasku semakin menjadi. Entah aku kenapa, aku tak tahu dan aku tak pernah ceritakan ini pada ibuku.