Aku dan rasa cemasku Part. 2

Pertama kali kena serangan panik yaitu di SMK kelas 3, tiba-tiba rasanya ulu hati panas terbakar dada rasanya sesak sampai meringis kesakitan menahan nya. Saat itu aku meminta izin pulang karena makin lama rasanya makin sakit.

Agak sedikit trauma juga setelah nya khawatir jika merasakan lagi sakitnya. Bahkan aku sempat dibawa oleh ibu ke dokter spesialis jantung hingga di EKG semua hasil bagus dan normal. Belum begitu paham juga tentang sakit yang aku alami ini.

Dokter cuma bilang aku mungkin sedang banyak pikiran. Ya memang sebenarnya ada, aku tipe orang yang memendam segala keluhku karena aku mengerti saat itu aku harus kuat supaya ibuku pun selalu kuat. Aku tak ingin banyak membebani pikiran ibu dengan segala lelah nya beliau disetiap hari.

Berangsur membaik, karena semangat dari nenek dan ibuku. Hingga memasuki masa lulus sekolah bahkan sampai lulus kuliah aku merasa tak memiliki masalah lagi dengan kecemasan. Karena fokusku saat itu pada kuliah dan pekerjaan. Hingga masuk ke gerbang pernikahan, semua rasa itu muncul bahkan dengan sensasi yang berbeda lagi.

Pernikahan tak sejalan dengan eskpetasi ku, aku memang sangat bahagia awalnya sebelum seseorang mengusik ketentraman kehidupan rumah tanggaku. Bulan ketiga setelah menikah aku hamil mengandung anak pertama kami. Tapi sungguh begitu banyak cobaan yang harus aku lewati. Aku melalui kehamilan pertama ini jauh dari orangtuaku.

Banyak tekanan sekali, bukan hanya di lingkup pekerjaanku tapi juga dalam rumah tanggaku. Saudara dari suami memang baik tapi seringnya menyakiti hati dengan perkataan kasar nya. Belum lagi ulah seseorang yang mengganggu hidup suamiku lagi. Aku tertekan, kadang menangis sendiri, tapi tak ada tempat untuk aku berbagi.