Aku Bukanlah Malaikat

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang selalu bertasbih kepada Tuhan Sang Pencipta. Kadang lidahku terasa Kelu menyebut asma-Nya. Bukan karena aku tak mampu. Tapi lebih karena kelalaian dan kesombonganku. Kelemahan ku inilah yang membuatku kadang menjauh dari Tuhanku.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang tak memiliki hawa nafsu. Kadang aku berprilaku layaknya budak nafsu. Tak lagi mengenal, mana yang boleh dan mana yang dilarang. Mana yang halal, dan mana yang haram. Hingga aku pun hidup dalam gelimang dosa.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang selalu takut dan taat kepada Tuhan. Kadang aku menganggap remeh ajaran Tuhan. Bahkan kadang menjadikannya sebagai ejekan. Berulang kali melanggar aturan-Nya. Berulang kali pula insyaf dan berjanji untuk tidak mengulangnya.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang tidak pernah merasakan jenuh dan lelah. Jika lelah datang mendera jiwa, maka tak ada lagi semangat untuk beraktifitas. Bahkan ibadah pun bisa ditinggalkan, hanya karena rasa lelah.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang memiliki kecepatan cahaya luar biasa. Terkadang aku lambat dalam melakukan amalan kebaikan. Terkadang aku lambat dalam memahami ayat-ayat Tuhan. Bukan karena Tuhan tak berikan kemudahan, namun lebih karena alasan kemalasan.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang tak pernah berbuat maksiyat. Kadang maksiyat dan tobat silih berganti. Malam maksiyat, esok hari pun bertobat. Hingga Tuhan pun datangkan bencana dan musibah, sebagai tanda pengingat agar segera bertobat.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang tidak makan dan tidak minum. Terkadang keserakahan kami menghabiskan semua makanan dan minuman. Hingga lupa, kalau tetangga sebelah rumah, ada yang tidur dalam kondisi perut kelaparan.

Aku manusia biasa. Bukan malaikat yang tak pernah sombong. Kadang kesombonganku membuat aku melupakan orang-orang terdekatku. Hingga mereka pergi jauh meninggalkanku dalam kesombongan.

Aku manusia biasa. Bukanlah malaikat.
Manusia yang kadang lupa, salah, berbuat dosa dan penuh amarah. Tapi patutlah terus bersyukur. Di samping kelemahan ku, ada kebaikan dari Tuhanku. Tuhan senantiasa mendengar doaku. Keluh kesah ku. Penyesalanku. Bahkan tobat ku yang kadang masih beriringan dengan rasa sombongku.

Ya Allah Tuhanku, ampunilah hamba-Mu yang lemah dan tak berdaya iniā€¦

Ngawi, di penghujung malam 18 April 2020

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik