Akar Pertengkaran

“Harusnya dia ngerti dong, masa gitu aja mesti dikasih tau? Ga sensitif amat!”
“Mestinya ga perlu ngomong dia udah ngerti dong, kaya baru kenal aja”
“Diemin aja, nanti juga sadar sendiri kalau kita lagi kesal.”

Banyak kalimat seperti ini terlontar kepada pasangan. Umumnya dari wanita. Emosi akibat terhentinya komunikasi. Merasa tidak dimengerti dan dipahami.

Saya sudah pasti pernah berkata seperti ini juga. Ujung-ujungnya, bukannya perasaan menjadi lebih baik, namun malah makin kecewa dan ga bahagia. Karena yang diharapkan mengerti tetap saja ga mengerti dan bikin makan hati, heheā€¦

Mengapa? Sebab ekspektasi kita pada keadaan jauh dari harapan, seperti tulisan saya sebelum ini berjudul “Ekspektasi Kebahagiaan”.

Harapan wanita, sang pria harusnya sudah mengerti tanpa harus dijelaskan. Atau tau dengan otomatis kalau sedang ada yang dikesalkan tanpa mesti cerita apa yang terjadi.

Disinilah kesalahan terjadi. Berhentinya komunikasi karena kita menempatkan orang lain menjadi diri kita dan merasa tak perlu lagi menjelaskan situasi dari sudut pandang kita.

Padahal orang lain bukanlah kita. Orang lain tidak memiliki pikiran dan perasaan kita. Tak ada yang tau persis apa yang sedang kita rasakan selain diri kita sendiri.

Maka tak bisa menuntut orang lain paham tanpa memberi penjelasan. Itu tak adil. Seperti memaksa orang lain menjadi ahli nujum!

Apalagi kalau kita tau bahwa cara berpikir pria dan wanita sangat jauh berbeda. Otak pria lebih didominasi logika. Tentu saja perasaan menjadi minoritas baginya.

Sebaliknya wanita berpikir, berkata-kata, menimbang dan memutuskan dengan otak perasaannya.

Sementara itu, komunikasi berjalan baik ketika kita memperlakukan lawan bicara sebagaimana ia berpikir, bertindak dan ingin diperlakukan. Bukan seperti kita ingin diperlakukan.

Maka seorang wanita yang cerdas dan bijaksana, selayaknya belajar memperlakukan pasangannya sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Jika ingin sesuatu, katakan saja. Jangan menggunakan mantra ‘semoga dia tau’. Jika kesal akan sesuatu, jelaskan dengan baik, jujur dan terbuka. Juga saat tidak menyukai sesuatu, lengkap dengan alasannya.

Sebenarnya otak logika berpikir dengan lurus dan sederhana:
Katakan saja.”

Semoga dengan berjalannya kembali komunikasi, semua persoalan, sekecil atau sebesar apapun pada akhirnya teratasi. Sebab akar dari permasalahan di dunia, entah dengan pasangan, anak, orang tua, saudara adalah kesalahpahaman komunikasi.

Jadi, kenapa tidak kita katakan saja apa yang kita rasa dan harapkan, dengan cara sebaik-baiknya?

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International Training