Adakah yang lebih berbahaya dari corona?

Kakak ingat kejadian Gempa di Padang setelah tsunami di Meulaboh?
Waktu itu kita semua masih trauma dengan kisah tsunami yang meluluh lantakkan semuanya, lalu Padang gempa. Heboh, panik, kacau. Semua dengan satu pikiran. Bakal mati terbawa gelombang tsunami. Apalagi Padang tidak terlalu tinggi dari permukaan laut.
Lalu apakah ada Tsunaminya?
Tidak. Berpotensi iya, namun tidak terjadi.
Apakah ada korban jiwa.
Banyak.
Ada yang meninggal juga.
Berlarian kesana kesini. Hilang arah.
Buuum. Tabrakan motornya
Buuuk, tabrakan tubuhnya. Terinjak oleh yang lain, patah kakinya.
Korban yang berjatuhan bukan karena tsunaminya, bukan karena gempa, tapi karena panik. Panik yang berlebihan.

Saya dan keluarga di sini bukan tak taat pada himbauan pemerintah. Kami tetap beraktivitas. Suami tetap ke ladang. Saya masih mengajar ngaji di masjid sebelah rumah. Selama anak-anak masih datang. Berkurang memang muridnya. Sebab dilarang orang tuanya untuk keluar rumah. Tak mengapa. Saya memperhatikan mereka semua. Jika ternyata ada yang kurang sehat, saya anjurkan untuk istirahat di rumah.

Pernah, saat saya mau merumahkan seorang murid dia protes. Katanya ingusnya muncul hari ini karena membantu bundanya bersih-bersih rumah, dan dia tidak kuat debu. Besok pasti hilang.
Saya tertawa.

Betapa kita sangat paranoid bukan.

Virus juga makhluk Tuhan. Pasti ia sedang menjalankan perintah. Pasti juga ada targetnya. Seperti kakak yang tanda tangan kontrak kinerja dengan bos. Virus juga melakukannya.
Barangkali targetnya tidak banyak.
Cukup untuk membuat kita “ngeh” dengan keadaan, kembali ke fitroh diri. Selalu bersih-bersih dan menjaga hubungan dengan Allah dan manusia. Tidak berlebihan.
Namun capaian targetnya jadi “Blundak”
Sebab ada variabel pemicunya.
Kepanikan kita.

Kepanikan kitalah yang menjadikan corona lebih berbahaya. Apalagi dunia sekarang borderless. Segalanya gampang diakses. Cerita, berita, berbagai kisah, entah benar atau salah sudah sulit membedakannya. Gilanya lagi kita lebih banyak menerima begitu saja. Tidak memiliki sensitivitas untuk menyaringnya.
Bahaya banget kan.
Lebih mengerikan dari virus yang sebenarnya bisa kita kendalikan lewat imun tubuh.

Jadi, menurutku Kakak isolasi diri bagus, baik.
Tapi berhenti berpikir tentang efek, tentang dampak. Esok bukan urusan kita. Esok itu punya Allah.
Tersenyum saja hari ini. Kakak matikan saja TV itu, agar tidak terpapar berita yang pengaruhnya lebih dahsyat dari virus.
Ah ya. Perbanyak ngaji dan tadarus. Suara kakak mengalunkan ayat suci akan mengurangi ketegangan syaraf, yang berdampak pada produktivitas sistem imun. Kakak ingat kan kalau al-Qur’an itu sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Manfaatkan isolasinya dengan mendekatkan diri pada Allah.
Bicara dengan hati, dengan mata dan telinga, dengan hidung dan mulut, dengan kaki dan tangan.
Ngaji aja deh.
Ah ya…jangan lupa tahajud.
Insya Allah kakak sehat. Sehat sesehat-sehatnya.

Kututup telpon dari Maisarah, salah seorang anggota keluarga yang tinggal di Meulaboh.

Mengapa kita begitu takut?
Takut dan cemas mampu dengan cepat melahirkan pikiran-pikiran buruk.

Tak ada yang sehitam pikiran buruk, ia akan menenggelamkan kita dalam kelam, kehilangan semangat dan lupa rasa bahagia. Kita menjadi lupa bahwa kuningnya cahaya matahari adalah isyarat optimisme, kita tidak mampu melihat birunya langit sebagai sebuah kestabilan yang dijanjikan Allah. Bahkan kita lupa merahnya warna darah adalah aliran semangat yang dianugerahkanNya.
Kita lupa dan membiarkan hitam mengambil kendali. Menyerap semua warna kehidupan.

Hmmm masa lalu tidak lagi bisa diubah, dan masa depan bukan sesuatu yang bisa dijamah. So fokus dihari ini saja. Perbanyak senyum dan tertawa, dan tentunya lebih banyak bersyukur untuk semua karuniaNYa.

Rumahmediagrup/Maulina Fahmilita