Ada Sisi Abu-abu

Ada Sisi Abu-abu

Di dunia yang serba hitam dan putih ini, ada sisi abu-abu. Manusia tidak mengetahuinya secara pasti. Diisi dengan prasangka, ketidakpastian, dan keragu-raguan.

Jika ragu, maka tinggalkanlah! Selayaknya memang demikian. Pilih saja kanan atau kiri, maju atau mundur. Tidak perlu takut melangkah. Minta petunjuk pada Pemilik langit dan bumi yang mengetahu hal ghaib dan terlihat.

Di saat abu-abu itu muncul menggerogoti keyakinan, hempaskan saja! Toh dia tak nyata. Tinggalkan syubhat dalam hidup. Termasuk masalah nafkah dan makanan yang dimakan. Halal dan haram itu jelas. Makanan akan menjadi darah dan daging, lalu mempengaruhi ruh, perilaku, pemikiran, serta ucapan. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Jika kita berada pada posisi abu-abu karena kenyataan yang dihadapi begitu samar bagi orang lain, akhirnya menimbulkan prasangka dan ketidaksukaan. Bahkan kebencian akibat merasa dikhianati dan didzalimi.

Mereka mengancam akan memidanakan, menghukum, memenjarakan dan segala ketakutan yang dikatakan. Bisa jadi mereka tak salah. Mereka hanya salah paham, tidak mengetahui di balik tirai abu-abu itu. Saat mau menyibaknya, mereka sekoyong-koyong datang mengekang. Tak salah manakala merasa didzalimi lalu bertindak. Namun, apakah sudah dipikir? Adakah provokator di balik semua itu? Jangan-jangan hanya dipermainman, diadu domba dan dirusak persaudaraannya. Berpikirlah sebelum bertindak, daripada sesal tiada tara di ujung hayat.

Menjadi abu-abu memang tak nyaman. Ujian yang menimpa, menjadi ujian kembali bagi orang lain. Saling mendoakan agar kabut hitam di langit segera luruh ke bumi. Agar cuaca kembali cerah dan pelangi terlukis di langit.