Ada Cinta di Tiap Aksara – Mi Familia

Saat Manajer Area Sumatera menuliskan ingin menyelenggarakan bedah buku Ada Cinta di Tiap Aksara dan Mi Familia, saya ingin sekali ikut. Pasalnya, saya mengirim tulisan di kedua judul itu. Jadi, ingin tahu, seperti apa sih kalau dibedah. Maklum, anak baru. Belum pernah ikut bedah buku hehe.

Pas diumumkan rundown acaranya, aduh … kenapa jadi dag dig dug serrr ya. Saking gugupnya, sejak H-1 sudah ngoceh ke seluruh anggota keluarga bahwa nanti emak jadi nara sumber. Belum terbayang mau bilang apa. Suami dan anak-anak support. Mereka bilang, “Selalu ada pertama kalinya untuk sesuatu, you can do it mom!”

Selepas maghrib, suami sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Laptop, background, mic dan juga earphone. Memastikan semuanya ok. Anak-anak bergantian nengok kegiatan emaknya. Ah … emak sangat bersyukur. Acara dimulai oleh MC yang luwes gaya bicaranya, kang Zamzam Nurzaman. Yang ternyata punya seorang kakak yang namanya sama dengan saya hihi.

Mbak Emmy membuka acaranya dengan menceritakan pengalamannya. Menarik. Di semua kesibukan yang dimiliki, bisa menulis. Bisa punya buku solo, bahkan anak-anaknyapun di usia belia, sudah punya karya. Ckckck … hebat! Lagi seru-serunya nyimak, lampu mati. Langsung istigfar. Beneran lagi diuji. Ujian ingin tahu bedah buku seperti apa dan jadi nara sumber itu bagaimana. Suami berusaha berbagi jaringan internet dengan laptop saya. Alhamdulillah akhirnya bisa. Meskipun beberapa kali keluar-masuk.

Di sini berkumpul teman-teman yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Seperti Mbak Emmy, Mbak Rhea, Mbak Endah, Mbak Rere, Mbak Ribka, Kang Zamzam, Mbak Jun, Mbak Asri, Mbak Dewi, Mbak Ade, Mbak Ria dan yang lainnya, bahkan yang punya Rumedia pun, Pak Ilham Alfafa ada. Keren banget! Bisa barengan satu frame di aplikasi zoom dengan mereka.

Sambil nyimak, sambil mencatat semua tips yang diberikan oleh nara sumber. Wah ternyata, teman-teman senior ini, begitu mudah berbagi tips tentang dunia kepenulisan. Tips mudah mengikat ide, tips untuk beralih genre ataupun tips untuk memunculkan mood. Ya, kadang untuk pemula, kayak saya, nulis tergantung mood.

Sharing dari Mbak Emmy, Mbak Rhea, Mbak Rere dan Mbak Endah sangat menarik. Menginspirasi pemula seperti saya untuk bisa menulis. Menulis untuk kebaikan dengan memotivasi ataupun menginspirasi. Agar bisa menjadi amal jariyah buat penulisnya juga. Penulis juga manusia bisa saja salah. Berbagi pengalaman sehari-hari, bisa juga menginspirasi orang lain, yang punya masalah yang sama. Jadi bisa merasa punya teman seperjuangan. Ini juga sangat menarik.

Giliran saya berbagi, saya grogi. Sebelumnya sudah tersusun di kepala, apa saja yang akan saya utarakan. Saking excited nya, saya lupa untuk menuliskan, apa saja yang akan saya ungkapkan. Saya fokus kepada semua hal yang harus saya bereskan sebelum acara dimulai. Maklum, pada jam segitu, jam makan malam dilanjutkan dengan mengerjakan tugas PJJ tiga orang anak. Ketika mati lampu dan kesempatan saya untuk terus ikut bedah buku meredup, saya sudah pasrah. Suami dan anak-anak yang support. Meskipun keluar-masuk, saya coba terus.

Memutar kembali pengalaman sejak gegar otak, hingga bisa menulis lagi, selalu bikin saya haru. Betapa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Bisa sampai titik ini, perjuangannya sangat mengharu biru.

Terimakasih atas semuanya kepada semua pihak. Buat Mbak Ribka yang sudah mengenalkan saya dan mengajak saya di dunia yang baru, dunia kepenulisan. Mbak Emmy yang bersedia memberi krisan terhadap tulisan saya yang masih harus belajar lagi PUEBI dan KBBI. Untuk penerbit Rumedia yang sudah menerbitkan tulisan saya. Pak Ilham Alfafa yang sudah membimbing saya untuk bisa menulis di web Nubar.

Bedah buku ini sangat keren. Ternyata menarik ya. Apalagi kalau menyimak latar belakang dibuatnya suatu tulisan. Kian menambah ilmu dan juga wawasan.