ADA APA DENGAN KESEHATAN PSIKOLOGISKU?

(Lanjutan “Pintu Misteri yang Sedikit Terkuak”)

Bagai memasuki sebuah ruangan aku merasa sedang dihadapkan pada suatu kenyataan tentang jawaban dari sebuah pertanyaan. Selembar diagnosa deskripsi psikologisku kuterima dari psikologku yang dikirim melalui email. Jujur, aku hanya membaca dan tidak mengerti maksudnya apa. Mungkin nanti aku akan mengerti jika di sesi berikutnya ada kesempatan tanya jawab. Namun sekilas aku bisa mencoba menangkap makna garis besar gambaran tadi meski hanya berdasarkan persepsiku sendiri. Ya, tertulis disana dalam istilah psikologi (ada namanya) namun dapat disimpulkan intinya aku terdiagnosa mengalami luka pengabaian sehingga traumatik terhadap penolakan. Aku akan menjadi sangat sensitif jika mendapat pengabaian atau penolakan. Entahlah maksudnya apa. Aku iyakan saja dulu dalam hatiku.

Satu hal yang membuatku agak kaget adalah ada catatan khusus bahwa aku menunjukkan diri sebagai orang yang mengalami kebingungan atas ketegangan-ketegangan yang terpendam, antara kesedihan dan kemarahan, merasakan ada keinginan memperoleh afeksi dari figur afeksi ibu serta merasakan kemarahan dengan perilaku yang ditampilkan ibu, hal ini menjadikannya konflik antara keinginan, ketakutan dan kemarahan.

Sebaris jenis terapi dipaparkan pula tentang apa yang harus kulakukan sehari hari di rumah. Tampaknya bagiku tidak mudah tapi aku mau mencoba. Ini adalah titik nol dari pencarianku atas apa yang terjadi dengan diriku. Aku bersiap memulai meski dengan cara yang tak sepenuhnya kumengerti. Aku hanya berniat menjalani saja apa yang harus kujalani.

Pertemuan ketiga aku bersiap untuk datang kembali ke psikolog. Sungguh aku benar-benar merasa seperti seseorang yang sedang bertopeng. Aku yang selama ini selalu tampil prima di depan teman-teman, pasti tak akan dikira pernah minta ditangani psikolog karena menyimpan masalah yang cukup berat kurasa. Tak apalah, aku tak mau menambah beban pikiran dengan memikirkan hal itu. Aku adalah aku, yang tahu tentang diriku hanya aku. Aku terserah aku bagaimana cara memperlakukan diriku. Aku merasa sedang mengidap penyakit psikologis dan aku ingin sembuh. Itu saja, tak ada fokusku yang lain. Aku hanya bisa berdoa semoga penyakitku tidak berat dan lekas pulih bisa segera disembuhkan sebelum terlanjur berat untuk ditangani.

Aku yang punya bekal pengetahuan tentang pentingnya kesehatan psikologis merasa penting untuk memperhatikan hal ini. Walau entah demi apa, tapi aku hanya merasa ingin sehat jiwa raga. Aku suka beraktivitas dalam kegembiraan dengan teman-teman, jadi kalau merasa kurang sehat rasanya tidak nyaman saja. Sudah lama aku sering memendam khawatir, cemas, panik, stress dan berbagai jenis gangguan perasaan lainnya. Aku pikir semua hanya dinamika hidup bahwa manusia itu pasti akan selalu bertemu dengan masalah. Tapi ternyata aku kelelahan juga. Di usia yang tidak muda lagi aku sungguh penasaran dengan diriku sendiri. Jadi kuputuskan untuk melanjutkan konsultasi di pertemuan selanjutnya dengan psikologku itu.

Baiklah nanti kuceritakan apa saja yang kualami di pertemuan ketiga ini di kisah selanjutnya.

NubarNulisBareng/Lina Herlina