SAY NO TO PLAGIARISM

SAY NO TO PLAGIARISM

Seorang penulis yang telah melahirkan karya tak lepas dari godaan “plagiarisme.” Padahal, hal ini adalah satu pantangan bagi seorang penulis. Selain karena sanksi yang cukup tegas sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 17 Tahun 2010 juga akan medapakan sanksi sosial yakni menuai kecaman dari para pembaca. Jadi, hati-hati jangan sampai kita terjebak dengan plagiarisme.

Apa itu plagiat?

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 yang penulis baca dalam sebuah artikel dikatakan bahwa “Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.”

Sedangkan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misalnya menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.

Kemudian, menurut Ulin Nafiah dalam tulisannya yang berjudul “Jenis Plagiarisme dalam Teknik Menulis Karya Ilmiah”, (Khairul Maqin, Ulin Nafiah, Pedoman Menulis Buku Tanpa Plagiarisme, Dee Publish, 2006), plagiarisme ada dua jenis, yaitu plagiarisme yang disengaja dan tidak disengaja. Tindakan teknik menulis dengan plagiarisme yang disengaja (Intentional Plagiarism) ini dapat terjadi karena menyalin tulisan orang lain tanpa menyebutkan sumbernya.

Sementara teknik menulis dengan plagiarisme yang tidak disengaja (Unintentional Plagiarism) dapat terjadi apabila kita mengutip artikel atau tulisan orang lain asal-asalan. Selain itu, plagiarisme tidak sengaja dapat terjadi karena kelalaian.
Hulman Panjaitan menuliskan dalam jurnalnya yang berjudul “Sanksi Pidana Plagiarisme Dalam Hukum Positif Di Indonesia” memaparkan bahwa prinsip dasar untuk menghindari dari perbuatan plagiarisme adalah sikap jujur dan menghargai serta mengormati karya atau ide atau pendapat orang lain.

Dalam kaitannya dengan penyusunan suatu karya ilmiah dalam berbagai bentuknya, maka tindakan plagiarisme dapat dihindari dengan melakukan pengutipan dan/atau melakukan parafhrase dengan menyebutkan sumbernya, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengutipan
    a. Menggunakan dua tanda kutif jika mengambil langsung satu kalimat dengan menyebutkan sumbernya.
    b. Menuliskan daftar pustaka atas karya yang ditunjuk dengan baik dan benar.
  2. Parafrase Melakukan paraphrase dengan tetap menyebutkan sumbernya.

Hal ini diperkuat oleh Khoirul Maqin dalam Pedoman Menulis Buku Tanpa Plagiarisme (Dee Publish, 2016), cara lain untuk menghindari plagiarisme ketika menulis buku adalah dengan melakukan kutipan tidak langsung. Mengutip secara tidak langsung dapat diwujudkan dalam tiga bentuk yakni membuat parafrase, meringkas atau menyusun kesimpulan.

Menyoroti bagian Parafrase, Khoirul Maqin menjelaskan bahwa parafrase merupakan salah satu cara meminjam gagasan/ide dari sebuah sumber tanpa menjadi plagiat. Menurut Kamus Oxford Advanced Leaner‟s Dictionary, parafrase merupakan “cara mengekspresikan apa yang telah ditulis dan dikatakan oleh orang lain dengan menggunakan kata-kata yang berbeda agar membuatnya lebih mudah untuk dimengerti.” Pengutipan yang dilakukan dalam teknik menulis parafrase merupakan kutipan yang menggunakan kata-kata sendiri untuk mengungkapkan ide yang sama. Sehingga dapat diaplikasikan saat menulis buku. Dan aktivitas tersebut ialah legal.

Nah, berdasarkan pemaparan di atas, seyogyanya seorang penulis tetap berusaha menyajikan karya yang orisinil dan tetap memperhatikan adab jika hendak mengutip tulisan orang lain. Saran saya, jika penulisnya masih ada dan bisa dihubungi, maka sebaiknya meminta izin terlebih dahulu dan tetap mencantumkan sumber referensi saat kita menyadur kembali tulisan tersebut.

Semangat menulis, salam literasi, semoga kita terhindar dari upaya plagiasi.

Wina Elfayyadh