SELAMAT JALAN, AYAH.

“Neng, tolong ambilkan ayah minum!”
Segera aku pergi ke dapur, secangkir teh manis.
“Kurang panas!” kata ayah, sambil memberikan gelas yang secepat kilat sudah kosong.
“Lho, ini airnya masih mendidih, baru diangkat dari kompor langsung tuang! bukan air dispenser,” kataku sambil mengambil lagi minum. “Aneh, air sepanas ini ayah tidak merasakannya.” batinku.

Sudah hampir seminggu ini ayah mengeluh sakit. Sesak di dada dan batuk-batuk tiada henti, membuatnya tak bisa tidur walau sebentar. Ibu sudah berkali-kali bilang kalau ayah harus berhenti merokok. Seperti itulah ayah, tiada hari tanpa rokok, kami menyebutnya lokomotif berjalan.
“Kalau karena ayah suka merokok mestinya dari dulu ayah sakit, dan semua orang yang merokok pastilah sakit seperti ayah” timpal ayah kesal dia tak menemukan rokok di tempat biasa dia duduk.
“Mestinya ayah piknik, Bu. Sudah lama tidak pergi-pergi. Ke pantai atau kemana saja yang ayah suka. daripada di rumah terus, paling hanya ke sawah dan ke pengajian.”
“Nah, pendapat Neng nih yang ayah suka. Betul” kata ayah sambil melintir bako, dan membakarnya. Sepertinya nikmat sekali menikmati rokok itu, walau sesekali batuk tak lantas melepaskan rokok itu.

Ba’da Magrib, seperti biasa ayah duduk di kursinya. Dia memanggil Mas Bram, suamiku untuk membacakan doa. Tangan kanan Mas Bram menyentuh dada ayah. tangan kirinya memegang buku panduan do’a.
“Bacakan ini!” kata ayah sambil menunjuk rangkaiaan doa pada buku. Aku duduk di hadapan ayah dan mengaminkan, semoga Allah segera memberikan kesembuhan pada beliau. Selama yang aku ingat, sejak aku kecil ayah tidak pernah sakit. Kalaupun ke dokter hanya berobat gatal-gatal di tangannya yang sampai sekarang sepertinya gatal di tangan ayah masih ada. Baru kali ini aku melihat ayah nampak kesakitan seperti itu. Batuk tiada henti dan merasa sangat dingin.

“Bu, ayah mau ke rumah sakit, hubungi Maman!” kata ayah. Paman Maman adalah adik angkat ayah satu-satunya. Karena ayah anak tunggal. Paman Maman hidupnya berkecukupan, sehingga hanya dia yang bisa mengantarkan Ayah ke rumah sakit.
Ibu segera menghubungi paman. Aku membantu menyiapkan segala keperluan ayah selama di rumah sakit, jika harus di rawat inap, jadi tidak susah untuk balik lagi. Maklum kami tinggal di kampung, dan butuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke kota.


Ibuku berpropesi membuka jasa riang pengantin. seminggu sebelum hari H itu saat-saat yang sangat sibuk. Ibu memberikan kepercayaan kepadaku untuk mengurus rumah dan mengatur segala keperluan ayah. Kali ini ibu sedang mengurus pernikahan adiknya istri kakak ipar saya. Namun, sesuatu terjadi hingga tangan ibu tak bisa digerakkan, kata orang mungkin rematik atau semacamnya. Aku melihat ayah membantu ibu berpakain. mulai dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
“Ini yang sakit siapa? kok malah ayah yang ngurus ibu?” candaku.

Setelah semua dirasa lengkap, ayah berjalan menuju mobil Paman yang sudah siap berada di depan.
“Mas, yang sakit siapa?” tanya Paman.
“Saya. Nih badan udah gak enak. Ingin di periksa ke rumah sakit.”
“Oh?” kata Paman nampak heran. secara yang sakit berjalan sendiri dan membawa tas sendiri. Tapi paman tidak bertanya lagi, dia langsung membuka pintu mobil dan mempersilakan ayah masuk.

Pagi-pagi, aku melepas Mas Bram naik bis, dia minta izin tidak bisa mengantar ayah ke rumah sakit karena ada panggilan dari Pekalongan, kampung halamannya. Jam sepuluh pagi, aku dan adikku siap berangkat menuju ke rumah sakit bergiliran menggantikan kakak tertuaku yang sudah dari malam jaga ayah.
Baru saja motor dinyalakan. Telpon adik saya berbunyi.
“Ya, Kak. Nih sekarang dah mau berangkat, sama Mba Sri.”
“Apa? Innalillahi wainna ilaihi rojiun”
sontak aku kaget. “Dek ada apa? kok innalillahi? siapa yang nelpon?”
“Mas Ucup, ayah sudah tiada.” tanpa menghiraukan jeritanku, secepat kilat Adikku melaju motor dengan sangat cepat.

Sesampai di rumah sakit, ibu nampak menangis sendiri. Mas Ucup sedang membereskan segala urusan perpulangan ayah. Sepanjang perjalanan pulang, dalam mobil ambulan, aku mencoba menghibur ibuku. Beliau sangat terpukul dan merasa kecewa karena tidak ada saat nafas terakhir ayah. Pagi itu ayah meminta ibu untuk pergi, karena hari itu ibu harus merias pengantin, anak besan.
“Pergilah Bu, tak enak kalau harus di wakilkan sama asisten ibu. Walaupun pastinya mereka akan mengerti jika bukan ibu yang merias pengantinnya, tapi ini masih keluarga. pergilah, berikan pelayanan terbaik. Ayah disini baik-baik saja kok.”
Setelah menimbang lama dan diyakinkan oleh ayah, akhirnya ibu pergi untuk merias pengantin.
“Ibu mau merias pengantinnya saja, yang lainnya biar dilanjutkan sama asissten. Setelah itu langsung ke sini lagi.” Ayah mengangguk sambil tersenyum. meyakinkan bahwa dia baik-baik saja. Itulah senyum terakhir yang dilihat ibu.
Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit. ibu mendapat telepon dari pihak rumah sakit bahwa ayah sudah tiada. jerit histerispun meledak dalam angkot. Demi mendengar penjelasan ibu disela-sela tangisnya, supir angkot memacu mobilnya dengan cepat. Dia tidak menerima penumpang lain dan terus menghibur ibu.

Tiba di kampung, semua orang telah berkumpul. Prosesi pemakaman lainya, Pa RT sudah siapkan. Di dalam gundukan tanah merah, kini ayah terbaring dengan tenang. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Allahummaghfirlaku warhamhu waafihi wa’fu anhu.
Semoga Allah memberikan tempat yang indah di sisi-Nya. Selamat jalan Ayah.