Godaan Ujung Jari

Pagi, saat mulai rehat kegiatan dapur dan sikecilnya tidur setelah minim susu, Mili mengakses akun medsosnya. Sejak akun medsosnya disetting publik notifikasi permintaan pertemanan jumlahnya meningkat sampai ratusan. Akhirnya Mili mengonfirmasi permintaan pertemanan tersebut selama nama yang muncul tidak aneh dan alay.

Sore menjelang, Mili kembali terhubung dengan dunia maya. Sejak segala kegiatan diluar rumah dibatasi, otomatis Mili tidak kemana-mana, sehingga medsos benar-benar menjadi hiburan baginya. Suaminya juga sudah satu bulan tidak pulang. Sebab menjadi bagian dari Tim PSBB di kota tempatnya bekerja. Mili melihat ada notifikasi pesan masuk dan ia melihat seorang teman baru melambai padanya. Mili membalas lambaian itu.

Salam kenal, saya Salim. Mengganggu ngak?

Salam juga. Enggak kok, lagi santai.

Saya panggil kamu Mili saja boleh?

Silakan

Lagi sibuk apa?

Ngak ada

Pic kamu cantik deh

Makasih

Boleh minta nomor WA?

Untuk apa ya?

Biar lebih enak ngobrolnya. Aku pengen kenal kamu lebih dekat

Mili memikirkan kalimat tersebut, ia mencoba mengakses akun Salim, Salim Juang begitu namanya. Melihat postingan yang ada dilamannya, dan sepertinya orang yang asyik.

Mili mengetikan nomor wanya. Teman baru pasti bisa mengatasi kejenuhan ini, begitu ia berpikir.

Aku sudah kirim pesan di wa kamu ya Mili

Ok

Kita ngobrol di sana saja boleh?

Boleh

Mili membuka aplikasi wanya.
Benar sudah ada pesan masuk dari nomor yang belum tersimpan.

“Bunda…” Riri datang dengan jalannya yang masih belum seimbang. Ia menarik selimut kecilnya. Putri semata wayang Mili itu menjelang tiga tahun. Penghiburan luar biasa bagi Mili saat kondisi seperti ini.

“Iya sayang…” Mili merentangkan tangan, menyemangati Riri yang berjalan oyong ke arahnya. Mili tertawa bersama Riri. Ia dekap putrinya dengan kasih sayang.

“Kita mandi yuuk.” Ujar Mili sembari merapikan rambut ikal Riri dari wajah mungil itu. Riri mengangguk dan Mili menggendongnya.

Setelah mandi Mili menyuapi Riri, lalu mereka bermain bersama, sampai Riri merasa lelah.

Sekitar jam 9 malam Riri memgambil buku bacaannya. Mili bersyukur. Tiba waktunya membaca dan mereka akan pindah ke kamar. Sembari tidur Mili akan mendongeng. Riri sangat menyukai aktivitas ini. Kegiatan yang akan berakhir saat Riri tertidur.

Entah berapa lama Mili tertidur. Ia terbangun dengan rengekan Riri yang meminta susu. Bangkit, Mili bergerak ke ruang makan untuk menyiapkan susu Riri. Kembali ke kamar dan meletakkan botol susu agar bisa dipegang Riri, dengan dot yang telah masuk mulutnya. Riri mulai meminum susunya.

Mili mengambil hp dan menyalakannya. Jam 02.10. Ah masih tengah malam, batinnya.
Kantuknya hilang, dan ia membuka aplikasi wa.
Ah… cukup banyak pesan masuk yang belum di bacanya. Ia teringat dengan kenalan barunya dan membuka chat itu.

Halo Mili

Hai Mili

Kok nggak dibaca?

Kamu sibuk?

Yaahhhh…jangan sombong dong

Mili tersenyum sendiri. Rasanya lucu chat diusianya dengan kalimat seperti itu.

Tetiba, saat Mili sedang menuliskan balasan chat baru masuk.

Duuhh… akhirnya kamu baca juga.
Aku nungguin lama banget lho Mili.
Kamu belum tidur?

Mili mengiirim emoticon orang tertawa. Ia tidak habis pikir, apa benar Salim menunggu chatnya?

Kok cuma emot.
Lagi males ngetik ya?

Eh… enggak.
Kamu kok juga masih begadang?

Nungguin chat kamu
😊😊

Serius? Aneh

Kenapa aneh. Kan aku bilang pengen kenal lebih dekat.
Aku suka sama kamu. Cantik.

Deg. Mili membaca lagi chat itu. Apakah ini rayuan, begitu ia berpikir. Tapi kok menyenangkan, rasa Mili mendominasi. Sudah lama sekali tidak ia dengar kalimat seperti itu. Mili ragu apakah chat ini perlu dibalas atau dihentikan.

Mili. Kok diam?
Marah ya?
Aku salah ya bilang kamu cantik?

Eh… terima kasih.
Aku nggak marah.

Mili berdebar. Ia tersenyum dan hatinya berbunga..

Syukurlah.
Aku sudah lama lho ikutin postingan kamu.
Jadi senang banget sekarang bisa chat

Emang apa menariknya postingan aku.

Gambarnya bagus-bagus. Captionnya juga keren.
Pokoknya suka aja.
Bolehkan suka sama kamu?

Mili kembali tercenung. Ia sudah mengetik kata boleh, tapi kemudian menghapusnya. Ini tidak benar begitu pikirannya mengingatkan. Ah..tapi ini mengasyikan begitu hatinya berkata. Berarti masih ada yang tertarik padanya. Mili sibuk dengan rasa dan pikirnya.

Aku sudah menikah.

Mili mengetik kalimat itu dan mengirimnya.

Nggak apa-apa.
Aku tahu kok dan nggak akan ganggu.
Boleh kan aku suka?

Jangan
Nanti kecewa

Enggak lah.
Bicara kayak kini aja aku dah senang.
Selama nggak kamu cuekin aja itu dah cukup.
Nanti kalau aku chat lagi jangan lama – lama.balasnya ya. Bisa rindu akunya.

Mili tersenyum. Hatinya bernyanyi, tapi kemudian ia kembali termenung.
Apakah chat ini kategori selingkuh? Ia berpikir.
Ahhh enggak lah kan yang suka dia, aku enggak.
Kenapa kamu tersenyum, kenapa senang dipuji dia?.

Mili…
Tidur ya?

Chat Salim masuk lagi. Mili memandang lama.

Dering hp mengejutkannya.

Mas Wira.

“Assalamu’alaikum Dek.” Suara Wira menghangatkan hatinya.

“Wa’alaikumsalam Mas.” Sahut Mili, dan entah mengapa ia merasa lega.

“Terbangun telpon Mas atau kamu sudah bangun?”

“Sudah bangun Mas, tadi Riri minta susu.” Mili melihat jam dinding. Ah jam empat, berarti di tempat Mas Wira sudah masuk waktu subuh.

“Tahajud nggak tadi?” Suara WIra

“Lagi off Mas.” Mili berpikir betapa godaan sangat mudah datang saat ia jauh dari Tuhan.

“Hmmm.. kalian berdua sehat kan? Mas harus apel pagi dulu. Nanti istirahat siang Mas telpon Adek lagi ya.”

“Baik Mas, kami sehat. Mas juga jaga kesehatan”

“Mas rindu berat nih. Saling mendoakan ya Dek. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam” air mata Mili menetes.
Pembicaraan itu berakhir.

Dilayar hp muncul notif dari nomor yang belum disimpan. Mili mengabaikannya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita